Dari Cibaduyut Sampai Nangkring di Top 6 Dunia: Plot Twist Sejarah Sepatu Lokal yang Jarang Kalian Tahu

Arvenstride

Kalo lu masih mikir sepatu kulit lokal itu cuma sekedar "barang murah" yang solnya gampang menganga, main kalian kurang jauh gengs. Industri sepatu kulit di Indonesia udah berevolusi gila-gilaan dari tahun 1990. Dulu, pasar kita emang dijajah habis-habisan sama brand luar, sementara perajin lokal di sentra kayak Cibaduyut atau Magetan cuma jalan di tempat. Tapi sekarang? Sentimen local pride udah bukan sekadar hashtag doang nih. Faktanya, Indonesia itu konsisten nangkring di jajaran top eksportir alas kaki dunia.

Sebelum lu makin yakin, gw kasih konteks dulu. Soalnya fondasi industri ini tuh udah ratusan tahun umurnya, bukan baru kemarin sore tiba-tiba viral.

Di Magetan, Jawa Timur, orang udah nyamak kulit dari tahun 1830-an. Awalnya buat perlengkapan kuda dan senjata pasca Perang Diponegoro, baru setelah merdeka pengrajinnya geser ke sepatu dan sandal. Cibaduyut sendiri, sentra yang lebih familiar di telinga anak muda sekarang, mulai tumbuh sejak 1920-an dan sempat disebut sebagai pasar penjualan kerajinan sepatu terpanjang di dunia karena tokonya berderet sampai berkilo-kilo.

Nah ini yang gw bilang plot twist: fondasi inilah yang akhirnya bikin brand gede dunia notice Indonesia. Tahun 1988, Nike mulai produksi di sini, terus disusul Adidas, Reebok, Puma yang ramai-ramai mindahin produksinya ke Asia Tenggara. Orang sering mikir mereka datang cuma karena ngejar upah murah. Padahal itu separuh cerita doang — keahlian craftsmanship lokal yang udah dibangun ratusan tahun itu yang sebenernya jadi alasan kuat kenapa brand global percaya bikin sepatu di sini.

Sekarang juga gak kalah gila. Indonesia sanggup produksi 1,4 miliar pasang sepatu per tahun dengan kualitas konsisten, dan pas pandemi bikin supply chain global kacau, industri ini malah cepet bangkit sambil ningkatin otomatisasi. Makanya gak aneh kalau Indonesia sekarang nyerap hampir 30% tenaga kerja pabrik global Nike dan Adidas. Itu angka yang gak mungkin lahir dari kebetulan.

Sekarang masuk ke angka-angkanya, Gas!

Per kuartal I 2025, Kemenperin nyatet Indonesia ada di peringkat ke-6 eksportir alas kaki dunia dengan pangsa pasar 3,99 persen. Dan ini bukan capaian yang jalan di tempat, soalnya tren-nya emang naik terus.

Coba lu simak ini: nilai ekspor alas kaki Indonesia periode Januari-Maret 2025 nyentuh US$ 1,89 miliar, naik 13,8% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Industrinya pun tumbuh 6,95% di kuartal I 2025, dengan sektor kulit dan alas kaki nyerap sekitar 961 ribu pekerja sampai Agustus 2024, naik 3% dari tahun sebelumnya. Kalau diliat skala tahunan, sepanjang 2024 nilai ekspor industri kulit dan alas kaki mencapai 7,1 miliar dolar AS, naik 10% dari 2023 yang cuma 6,4 miliar dolar AS. Investasinya pun deras, cuma dalam lima bulan di 2025, masuk Rp8 triliun dari 12 perusahaan besar di sektor alas kaki.

Bukan berarti semuanya mulus sih. Posisi Indonesia masih kalah dari Vietnam yang kapasitas produksinya dua kali lipat lebih gede. Tapi tren naiknya tetep keliatan, dan itu nunjukin industri ini bukan industri yang "lagi sekarat" kayak stereotype lama, justru lagi naik kelas.

Jadi kalau lu masih ngeremehin sepatu kulit lokal cuma karena dulunya identik sama "barang pasar", mungkin yang ketinggalan info justru lu sendiri.


© 2025. All rights reserved.

Follow us

Contact us

Feel free to contact us with any questions or concerns. You can use the form on our website or email us directly. We appreciate your interest and look forward to hearing from you.

Email

sabarahaproject@gmail.com

Phone

081945110811